Sunday, June 9, 2013

Bidadari Cantik dari Halmahera


 
Spesies dengan nama Latin Semioptera wallacii sp itu ditemukan pertama kali oleh Alfred Russel Wallace di pulau Bacan, Maluku Utara. Ketika itu, pembantunya, Ali, menembak burung surga ini dan membawa pulang hasil buruannya, lalu terlihat oleh petualang Wallace, yang oleh Charles H. Smith dari Western Kentucky University, disebut sebagai seorang journalist asal Inggris ini.
Dari sini bermula perburuan burung endemic Halmahera, yang disebut Wallace sebagai bird of paradise karena keindahannya itu. Setelah laporannya ditulis dan dikirim ke Inggris, yang dikemudian hari dikenal dengan “Letter from Ternate,” dibuka di forum intelektual Inggris, 1859, burung ini masuk dalam kategori family Paradisaeidae. Menurut George Robert Gray dari British Museum, penamaan semioptera wallacii merupakan penghargaan terhadap Wallace yang disebutnya naturalis asal Inggris itu. Dia memberi nama ini sebagai penghargaan terhadap pengelana asal Inggris yang hidup di tahun 1823 – 1913 itu.
Sayangnya burung Bidadari (Semioptera wallacii) yang endemik Maluku Utara ini semakin hari semakin langka. Meskipun oleh IUCN Redlist hanya dikategorikan sebagaiLeast Concern, tetapi di lapangan burung berbulu indah layaknya bidadari ini semakin jarang ditemui. Populasi burung ini sudah terancam punah,
Ini burung unik yang sudah terancam punah. Habitatnya di Lolobata, sudah diganggu penambangan. Di Bukit Tanah Putih, penebangan terhadap kayu Matowa yang menjadi makanan utamanya, membuat burung ini makin tergusur. Pembangunan di sekitar tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan juga turut berkontribusi terhadap berkurangnya spesies unik ini. Mulai dari penebangan oleh PT Pan Tunggal, dilanjutkan oleh Timber Agatis Indah Wood Industries (TAIWI), anak perusahaan Barito Timber, yang berlokasi di Sidangoli, turut memberikan kontribusi terhadap turunnya spesies yang kian langka ini.
Burung yang oleh masyarakat Sidangoli dan sekitarnya dinamai Weka-Weka itu kini menempati lokasi yang dikenal dengan sebutan Gunung Tanah Putih. Lokasi itu lebih tepat dinamakan Bukit Tanah Putih, tapi karena kebiasaan masyarakat local di sana, nama itu kemudian menjadi nama resmi.

Faktor Pemicu Punahnya Burung Bidadari
Faktor kepunahan burung bidadari ini salah satunya adalah banyak didirikannya pertambangan dan sulitnya didapat makanan bagi si burung bidadari ini sehingga sangat berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup burung bidadari ini. Makanannya terdiri dari serangga, antropoda, buah-buahan yang umumnya burung ini memeakan buah pohon  matowa yang menjadi makanan favoritnya, habitat burung ini semakin sempit, bagaimana tidak burung ini sudah sulit untuk mendapat makanan dan tempatnya oun sudah banyak digusur oleh berbagai macam pertambangan. Populasi burung Bidadari (Semioptera wallacii) tidak diketahui dengan pasti tetapi dipastikan telah menurun jika dibandingkan dengan tahun 1980-an lantaran banyaknya kawasan hutan habitat burung bidadari yang mengalami deforestasi. Penurunan populasi juga diakibatkan oleh perburuan liar untuk menangkap burung Bidadari jantan yang mempunyai bulu indah. Faktor lain yang memicu adalah kurangnya sosialisasi tentang keberadaan burung ini dan bagaimana proses untuk melakukan penangkaran agar tidak terjadi kepunahan, saya rasa mulai dari sekarang tidak ada kata terlambat karena meski sudah sedikit angka populasinya tapi kita masih bisa melakukan penangkaran demi kelangsungna hidup bidadari cantik ini.
 
Jenis Burung Bidadari
Burung Bidadari Halmahera, Semioptera wallacii adalah jenis cendrawasih berukuran sedang, sekitar 28cm, berwarna cokelat-zaitun. Cendrawasih ini merupakan satu-satunya anggota genus Semioptera. Burung jantan bermahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat dan warna pelindung dadanya hijau zamrud. Cirinya yang paling mencolok adalah dua pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya dan bulu itu dapat ditegakkan atau diturunkan sesuai keinginan burung ini. Burung betinanya yang kurang menarik berwarna cokelat zaitun dan berukuran lebih kecil serta punya ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan. Burung Bidadari Halmahera adalah burung endemik kepulauan Maluku dan merupakan jenis burung cenderawasih sejati yang tersebar paling barat. Makanannya terdiri dari serangga, artropoda, dan buah-buahan.Burung jantan bersifat poligami. Mereka berkumpul dan menampilkan tarian udara yang indah, meluncur dengan sayapnya dan mengembangkan bulu pelindung dadanya yang berwarna hijau mencolok sementara bulu putih panjangnya di punggungnya dikibar-kibarkan.

Meskipun semakin sulit ditemuka,namunoleh IUCN Redilst, status konservsi burung ini masih dianggap aman sehingga masih diklasifikasikan sebagai Least Concern. Awedangkan oleh CITES, burung bidadari Halmahera didaftarkan sebagai Apendiks II. Pemerintah Indonesia,meskipun tidak spesifik menyebut nama species burung Bidadari dalam lampiran PP NO. 7 tahun 1999, namun bruung ini ttaptermasuk sebgai salah satu satwa yang dilindungi. Ini lantaran semua anggota famili Paradisaeidae atau berbagai jenis Cendrawasih, merupakan satwa yang dilindungi.
 

Referensi :

  

No comments:

Post a Comment