Spesies
dengan nama Latin Semioptera wallacii sp itu ditemukan pertama kali oleh Alfred
Russel Wallace di pulau Bacan, Maluku Utara. Ketika itu, pembantunya, Ali,
menembak burung surga ini dan membawa pulang hasil buruannya, lalu terlihat
oleh petualang Wallace, yang oleh Charles H. Smith dari Western Kentucky
University, disebut sebagai seorang journalist asal Inggris ini.
Dari
sini bermula perburuan burung endemic Halmahera, yang disebut Wallace sebagai
bird of paradise karena keindahannya itu. Setelah laporannya ditulis dan
dikirim ke Inggris, yang dikemudian hari dikenal dengan “Letter from Ternate,”
dibuka di forum intelektual Inggris, 1859, burung ini masuk dalam kategori
family Paradisaeidae. Menurut George Robert Gray dari British Museum, penamaan
semioptera wallacii merupakan penghargaan terhadap Wallace yang disebutnya
naturalis asal Inggris itu. Dia memberi nama ini sebagai penghargaan terhadap
pengelana asal Inggris yang hidup di tahun 1823 – 1913 itu.
Sayangnya burung Bidadari (Semioptera wallacii) yang endemik Maluku Utara ini
semakin hari semakin langka. Meskipun oleh IUCN Redlist hanya dikategorikan
sebagaiLeast Concern, tetapi di lapangan
burung berbulu indah layaknya bidadari ini semakin jarang ditemui. Populasi
burung ini sudah terancam punah,
Ini burung unik yang sudah terancam punah.
Habitatnya di Lolobata, sudah diganggu penambangan. Di Bukit Tanah Putih,
penebangan terhadap kayu Matowa yang menjadi makanan utamanya, membuat burung
ini makin tergusur. Pembangunan di sekitar tanpa mempertimbangkan aspek
lingkungan juga turut berkontribusi terhadap berkurangnya spesies unik ini.
Mulai dari penebangan oleh PT Pan Tunggal, dilanjutkan oleh Timber Agatis Indah
Wood Industries (TAIWI), anak perusahaan Barito Timber, yang berlokasi di
Sidangoli, turut memberikan kontribusi terhadap turunnya spesies yang kian
langka ini.
Burung yang oleh masyarakat Sidangoli dan
sekitarnya dinamai Weka-Weka itu kini menempati lokasi yang dikenal dengan
sebutan Gunung Tanah Putih. Lokasi itu lebih tepat dinamakan Bukit Tanah Putih,
tapi karena kebiasaan masyarakat local di sana, nama itu kemudian menjadi nama
resmi.
Faktor Pemicu Punahnya Burung Bidadari
Faktor
kepunahan burung bidadari ini salah satunya adalah banyak didirikannya pertambangan
dan sulitnya didapat makanan bagi si burung bidadari ini sehingga sangat
berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup burung bidadari ini. Makanannya
terdiri dari serangga, antropoda, buah-buahan yang umumnya burung ini memeakan
buah pohon matowa yang menjadi makanan
favoritnya, habitat burung ini semakin sempit, bagaimana tidak burung ini sudah
sulit untuk mendapat makanan dan tempatnya oun sudah banyak digusur oleh
berbagai macam pertambangan. Populasi
burung Bidadari (Semioptera wallacii)
tidak diketahui dengan pasti tetapi dipastikan telah menurun jika dibandingkan
dengan tahun 1980-an lantaran banyaknya kawasan hutan habitat burung bidadari
yang mengalami deforestasi. Penurunan populasi juga diakibatkan oleh perburuan liar
untuk menangkap burung Bidadari jantan yang mempunyai bulu indah. Faktor
lain yang memicu adalah kurangnya sosialisasi tentang keberadaan burung ini dan
bagaimana proses untuk melakukan penangkaran agar tidak terjadi kepunahan, saya
rasa mulai dari sekarang tidak ada kata terlambat karena meski sudah sedikit
angka populasinya tapi kita masih bisa melakukan penangkaran demi kelangsungna
hidup bidadari cantik ini.
Jenis Burung Bidadari
Burung Bidadari Halmahera, Semioptera wallacii
adalah jenis cendrawasih berukuran sedang, sekitar 28cm, berwarna
cokelat-zaitun. Cendrawasih ini merupakan satu-satunya anggota genus
Semioptera. Burung jantan bermahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat dan
warna pelindung dadanya hijau zamrud. Cirinya yang paling mencolok adalah dua
pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya dan bulu itu
dapat ditegakkan atau diturunkan sesuai keinginan burung ini. Burung betinanya
yang kurang menarik berwarna cokelat zaitun dan berukuran lebih kecil serta
punya ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan. Burung Bidadari Halmahera
adalah burung endemik kepulauan Maluku dan merupakan jenis burung cenderawasih
sejati yang tersebar paling barat. Makanannya terdiri dari serangga, artropoda,
dan buah-buahan.Burung jantan bersifat poligami. Mereka berkumpul dan
menampilkan tarian udara yang indah, meluncur dengan sayapnya dan mengembangkan
bulu pelindung dadanya yang berwarna hijau mencolok sementara bulu putih
panjangnya di punggungnya dikibar-kibarkan.
Meskipun semakin sulit ditemuka,namunoleh IUCN Redilst, status konservsi burung ini masih dianggap aman sehingga masih diklasifikasikan sebagai Least Concern. Awedangkan oleh CITES, burung bidadari Halmahera didaftarkan sebagai Apendiks II. Pemerintah Indonesia,meskipun tidak spesifik menyebut nama species burung Bidadari dalam lampiran PP NO. 7 tahun 1999, namun bruung ini ttaptermasuk sebgai salah satu satwa yang dilindungi. Ini lantaran semua anggota famili Paradisaeidae atau berbagai jenis Cendrawasih, merupakan satwa yang dilindungi.
Referensi :
No comments:
Post a Comment